hakekat akhlaq ihsan meliputi
keyakinan,bahwa itu tujuan paling akhir yang inti
kandungan quran
hakekat muhsin
install imtaq
install rukun islam dan rukun iman
Minggu, 29 Agustus 2010
zamzam
Blokir Situs Porno untuk Membangun Karakter Bangsa
Asosiasi Industri Web Indonesia (AIWI) menawarkan diri untuk mengkaji ulang standar spesifikasi sistem yang digunakan untuk memblokir
Hidayatullah.com -- Pemblokiran situs porno ini bukan untuk kepentingan jangka pendek Kementerian Kominfo, tetapi merupakan suatu kegiatan yang berorientasi jangka panjang dalam turut serta membantu national character building. Program ini didukung banyak kalangan masyarakat.
Salah satu dukungan tersebut datang dari Asosiasi Industri Web Indonesia (AIWI), yang tidak hanya mendukung, tetapi juga menawarkan diri untuk mengkaji ulang standar spesifikasi sistem yang digunakan untuk memblokir dengan tujuan di antaranya untuk meminimalisasi dampak pemblokiran yang merembet pada situs yang non pornografi.
Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo RI Gatot S. Dewa Broto mengungkapkan, pihaknya akan terus melakukan program ini secara berkelanjutan.
"Itulah sebabnya, kalau masih banyak bolong-bolongnya, bukan berarti program ini gagal. Tapi memang upaya ini harus terus dilakukan," kata Gatot S. Dewa Broto dalam perbincangan dengan Hidayatullah.com, Sabtu (28/08).
Hal lain yang juga perlu diberitahukan kepada masyarakat umum adalah, bahwasanya dukungan publik terhadap kegiatan filtering dan pemblokiran ini terus saja mengalir dari berbagai kalangan, meskipun di awal Kementerian Kominfo tetap selalu mengingatkan, bahwa konten internet yang bermuatan pornografi tidak dapat sepenuhnya 100% dibersihkan.
Tetapi minimal, kata Gatot, ada upaya masif yang dilakukan Kementerian Kominfo bersama para penyelenggara ISP, yaitu suatu upaya konkret massif secara komprehensif dan berkelanjutan yang baru pertama kalinya dilakukan sejak berdirinya Kementerian Kominfo.
"Memang di negara mana pun belum ada negara yang sukses memblokir situs porno, di RRC pun yang otoriter tidak pernah sukses. Tapi ini bukan menjadi alasan kami untuk menyerah," lontar Gatot. [ain/www.hidayatullah.com]
Hidayatullah.com -- Pemblokiran situs porno ini bukan untuk kepentingan jangka pendek Kementerian Kominfo, tetapi merupakan suatu kegiatan yang berorientasi jangka panjang dalam turut serta membantu national character building. Program ini didukung banyak kalangan masyarakat.Salah satu dukungan tersebut datang dari Asosiasi Industri Web Indonesia (AIWI), yang tidak hanya mendukung, tetapi juga menawarkan diri untuk mengkaji ulang standar spesifikasi sistem yang digunakan untuk memblokir dengan tujuan di antaranya untuk meminimalisasi dampak pemblokiran yang merembet pada situs yang non pornografi.
Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo RI Gatot S. Dewa Broto mengungkapkan, pihaknya akan terus melakukan program ini secara berkelanjutan.
"Itulah sebabnya, kalau masih banyak bolong-bolongnya, bukan berarti program ini gagal. Tapi memang upaya ini harus terus dilakukan," kata Gatot S. Dewa Broto dalam perbincangan dengan Hidayatullah.com, Sabtu (28/08).
Hal lain yang juga perlu diberitahukan kepada masyarakat umum adalah, bahwasanya dukungan publik terhadap kegiatan filtering dan pemblokiran ini terus saja mengalir dari berbagai kalangan, meskipun di awal Kementerian Kominfo tetap selalu mengingatkan, bahwa konten internet yang bermuatan pornografi tidak dapat sepenuhnya 100% dibersihkan.
Tetapi minimal, kata Gatot, ada upaya masif yang dilakukan Kementerian Kominfo bersama para penyelenggara ISP, yaitu suatu upaya konkret massif secara komprehensif dan berkelanjutan yang baru pertama kalinya dilakukan sejak berdirinya Kementerian Kominfo.
"Memang di negara mana pun belum ada negara yang sukses memblokir situs porno, di RRC pun yang otoriter tidak pernah sukses. Tapi ini bukan menjadi alasan kami untuk menyerah," lontar Gatot. [ain/www.hidayatullah.com]
heaven
"Tuhan" Filsafat
Ketuhanan dalam agama Yahudi dan Kristen, kata Newton sangat problematic. Karena itu, ia ditolak sains
Oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi *
Pada suatu hari saya naik bis dari Aston ke Universitas Birmingham Inggris. Disamping saya seorang bule agak kusut. Ia melirik buku teologi yang sedang saya baca. Dan tiba-tiba: Hai mike! Ia menyapa dengan aksen khas Birmingham sambil senyum. Dia bertanya, "Bisakah Tuhan menciptakan sesuatu yang Ia tidak dapat mengangkatnya"?
Saya tahu konsekuensi jawabannya. Baik jawaban positif maupun negatif hasilnya sama Tuhan tidak berkuasa. Ini pasti pertanyaan seorang sekuler atau ateis, pikir saya. Ia bertanya dan tidak perlu jawaban.
Untuk tidak memberi jawaban panjang saya tanya dia dulu "Could you tell me what do you mean by God?" Benar saja sebelum menjawab pertanyaan saya dia sudah turun dari bus sambil meringis.
Pertanyaan apakah Tuhan bisa membuat lebih baik dari yang ada ini, pernah diajukan Peter Abelard. Dia sendiri juga bingung menjawab. Pertanyaan sang Bule itu mungkin kulakan dari situ. Tapi yang jelas bukan dari pikirannya sendiri. Apa makna Tuhan baginya kabur. Bertanya tanpa ilmu akhirnya menjadi seperti guyonan atau bahkan plesetan.
Di Barat, diskursus tentang Tuhan memang marak dan terkadang mirip guyonan. Presedennya karena teologi bukan bagian dari thawabit (permanen) tapi mutaghayyiat (berubah). Layaknya wacana furu' dalam fiqih. Ijtihad tentang Tuhan terbuka lebar untuk semua. Siapa saja boleh bertanya apa saja. Akibatnya, para teolog kuwalahan. Pertanyaan-pertanyaan rasional dan protes-protes teologis gagal dijawab. Teolog lalu digeser oleh doktrin Sola Scriptura. Kitab suci bisa difahami tanpa otoritas teolog, sosiolog, psikolog, sejarawan, filosof, saintis dan bahkan orang awam pun berhak bicara tentang Tuhan.
Oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi *
Pada suatu hari saya naik bis dari Aston ke Universitas Birmingham Inggris. Disamping saya seorang bule agak kusut. Ia melirik buku teologi yang sedang saya baca. Dan tiba-tiba: Hai mike! Ia menyapa dengan aksen khas Birmingham sambil senyum. Dia bertanya, "Bisakah Tuhan menciptakan sesuatu yang Ia tidak dapat mengangkatnya"?
Saya tahu konsekuensi jawabannya. Baik jawaban positif maupun negatif hasilnya sama Tuhan tidak berkuasa. Ini pasti pertanyaan seorang sekuler atau ateis, pikir saya. Ia bertanya dan tidak perlu jawaban.
Untuk tidak memberi jawaban panjang saya tanya dia dulu "Could you tell me what do you mean by God?" Benar saja sebelum menjawab pertanyaan saya dia sudah turun dari bus sambil meringis.
Pertanyaan apakah Tuhan bisa membuat lebih baik dari yang ada ini, pernah diajukan Peter Abelard. Dia sendiri juga bingung menjawab. Pertanyaan sang Bule itu mungkin kulakan dari situ. Tapi yang jelas bukan dari pikirannya sendiri. Apa makna Tuhan baginya kabur. Bertanya tanpa ilmu akhirnya menjadi seperti guyonan atau bahkan plesetan.
Di Barat, diskursus tentang Tuhan memang marak dan terkadang mirip guyonan. Presedennya karena teologi bukan bagian dari thawabit (permanen) tapi mutaghayyiat (berubah). Layaknya wacana furu' dalam fiqih. Ijtihad tentang Tuhan terbuka lebar untuk semua. Siapa saja boleh bertanya apa saja. Akibatnya, para teolog kuwalahan. Pertanyaan-pertanyaan rasional dan protes-protes teologis gagal dijawab. Teolog lalu digeser oleh doktrin Sola Scriptura. Kitab suci bisa difahami tanpa otoritas teolog, sosiolog, psikolog, sejarawan, filosof, saintis dan bahkan orang awam pun berhak bicara tentang Tuhan.
renung
Tazkiyatu Nafs: Menerangi Kegelapan Hati
Cahaya itu merupakan kunci menuju bagian pengetahuan yang lebih besar. Cahaya itu sendiri bukanlah ungkapan kebenaran. Kebenaran itu harus dicari, tetapi kini ia telah menemukan keterbatasan akal
Oleh: Sholih Hasyim
Seorang profesor, yang sedang naik daun namanya, tiba-tiba dilanda kekalutan batin dan keresahan jiwa. Ia merasa ada yang kurang dalam dirinya, sekalipun berlebihan dalam aspek karir dan income.
Tak urung, ia memutuskan untuk meninggalkan karirnya yang cemerlang di Universitas Nidzamiyah dan memburu kebutuhan lain yang dirindukannya – jawaban yang tuntas atas keresahan dan keguncangan batinnya -. Ia jatuh sakit, mulutnya membisu, tetapi pikirannya terus bergejolak dan bergolak. Ia menyedekahkan seluruh hartanya, kecuali sedikit saja untuk keperluannya dan keluarganya. Baghdad, kota yang memberikan keharuman namanya, ia tinggalkan. Ia mengasingkan diri untuk menjawab pertanyaan besar yang sedang merisaukan hatinya – cara apakah yang dapat ditempuh hingga sampai kepada pengetahuan yang benar (al-Haqiqah al-Muthlaqah)?.
Ia berkesimpulan. Pertama, ia meamandang bahwa pengetahuan yang benar hanya dapat diperoleh lewat pencerapan panca indera (al-khawasul khams). Yang benar adalah yang dapat dilihat, didengar, dicium, dicicipi, atau diraba. Yang benar adalah yang terukur (al-Haqiqah At-Tajribiyyah). Dengan bergulirnya waktu, segera ia menemukan bahwa persepsi inderawi juga tidak dapat sepenuhnya dipercaya. Ia bertanya kepada dirinya – atas dasar apa harus mempercayai keterangan persepsi inderawi. Dari kejauhan matanya melihat air lewat jendela kendaraan yang dinaikinya, setelah didatanginya ternyata hanya fatamorgana. Matanya melihat bayangan tongkat itu tidak bergerak, padahal orang tahu bahwa bayangan itu bergerak perlahan sekali mengikuti bayangan matahari. Dan matahari kelihatan kecil, padahal lewat perhitungan geometris, matahari lebih besar dari bumi.
Kedua, kekeliruan indera dibetulkan oleh akal yang sehat (al-‘Aqlus Salim). Sekarang ia mencurahkan harapannya kepada akal. Tapi, ia segera membayangkan bahwa persepsi indera yang ditinggalkannya menghujatnya dengan keras: Apakah Anda tidak mengira bahwa kepercayaan Anda pada akal akan mengalami hal yang sama seperti kepercayaan Anda pada persepsi inderawi sebelumnya ?. Anda lalu mempercayai saya. Lalu, datanglah akal, dan saya terbukti salah. Kalau tidak ada akal, Anda akan selalu menganggap saya benar. Akal mendefinisikan bahwa bahagia itu berbentuk benda (materi) yang bisa dicari di tempat tertentu dan pada waktu khusus. Setelah semuanya diperoleh dan berlebih, terbukti kebahagiaan yang diburunya semakin menjauh. Akal lemah dalam menjawab pertanyaan kembarannya, untuk apa semua itu di cari?.
Ketiga, barangkali dibalik pemahaman akal, ada lagi hakim lain yang bila menampakkan dirinya, dapat menunjukkan kesalahan akal dalam menetapkan keputusan, seperti ketika akal muncul, akal memperlihatkan kekeliruan indera. Kenyataan bahwa pemahaman - supra-intelektual, supra-rasional - (indera keenam, red) itu belum muncul, tidaklah dapat dijadikan bukti bahwa hal itu tidak ada.
Akhirnya, Selama berbulan-bulan, profesor ini merenungkan masalah ini. Ia hampir-hampir putus asa. Pemecahan masalah ternyata tidak lewat berpikir dan merenung. Ia bercerita, Penyelesaian masalahku tidaklah datang karena pembuktian yang sistematis dan argumentasi yang dikemukakan, tetapi karena belum ada cahaya yang dimasukkan Allah Swt ke dalam dadaku.
Cahaya itu merupakan kunci menuju bagian pengetahuan yang lebih besar. Cahaya itu sendiri bukanlah ungkapan kebenaran. Kebenaran itu harus dicari, tetapi kini ia telah menemukan keterbatasan akal. Dia telah menguras kekuatan intelektualnya, namun berakhir dalam keputusasaan, ketika sentuhan ghaib Tuhan menyelematkannya dari kesesatan. Dorongan mendadak keimanan ini nampak olehnya berasal dari pencerahan Ilahi sebagai suatu cahaya pembawa harapan. Baginya, hal itu berarti bahwa pengetahuan manusia tentang kebenaran bergantung sekali pada sesuatu yang berada di luar logika dan aturan-aturan penalaran. Sebagai sesuatu yang lebih tinggi daripada nalar sebagai alat penghubung dengan kenyataan metafisik, mesti ada pada manusia, dan meskipun aktifitasnya bergantung pada bunga api Ilahi toh ia sendiri memampukan pencari yang gigih mencapai pengetahuan tentang kenyataan dan tentang Tuhan.
Profesor tersebut adalah sang Hujjatul Islam, Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali. Yang meresahkannya adalah masalah epistemologi (fahmul ‘ilmi), yang mengobatinya adalah sentuhan hidayah (Nur) Ilahi. Al-Ghazali boleh disebut sebagai salah seorang pemikir Islam yang merintis kajian epistemologi dalam perspektif Islam. (dalam Hilyatul Auliya, juz 11).
Oleh: Sholih Hasyim
Seorang profesor, yang sedang naik daun namanya, tiba-tiba dilanda kekalutan batin dan keresahan jiwa. Ia merasa ada yang kurang dalam dirinya, sekalipun berlebihan dalam aspek karir dan income. Tak urung, ia memutuskan untuk meninggalkan karirnya yang cemerlang di Universitas Nidzamiyah dan memburu kebutuhan lain yang dirindukannya – jawaban yang tuntas atas keresahan dan keguncangan batinnya -. Ia jatuh sakit, mulutnya membisu, tetapi pikirannya terus bergejolak dan bergolak. Ia menyedekahkan seluruh hartanya, kecuali sedikit saja untuk keperluannya dan keluarganya. Baghdad, kota yang memberikan keharuman namanya, ia tinggalkan. Ia mengasingkan diri untuk menjawab pertanyaan besar yang sedang merisaukan hatinya – cara apakah yang dapat ditempuh hingga sampai kepada pengetahuan yang benar (al-Haqiqah al-Muthlaqah)?.
Ia berkesimpulan. Pertama, ia meamandang bahwa pengetahuan yang benar hanya dapat diperoleh lewat pencerapan panca indera (al-khawasul khams). Yang benar adalah yang dapat dilihat, didengar, dicium, dicicipi, atau diraba. Yang benar adalah yang terukur (al-Haqiqah At-Tajribiyyah). Dengan bergulirnya waktu, segera ia menemukan bahwa persepsi inderawi juga tidak dapat sepenuhnya dipercaya. Ia bertanya kepada dirinya – atas dasar apa harus mempercayai keterangan persepsi inderawi. Dari kejauhan matanya melihat air lewat jendela kendaraan yang dinaikinya, setelah didatanginya ternyata hanya fatamorgana. Matanya melihat bayangan tongkat itu tidak bergerak, padahal orang tahu bahwa bayangan itu bergerak perlahan sekali mengikuti bayangan matahari. Dan matahari kelihatan kecil, padahal lewat perhitungan geometris, matahari lebih besar dari bumi.
Kedua, kekeliruan indera dibetulkan oleh akal yang sehat (al-‘Aqlus Salim). Sekarang ia mencurahkan harapannya kepada akal. Tapi, ia segera membayangkan bahwa persepsi indera yang ditinggalkannya menghujatnya dengan keras: Apakah Anda tidak mengira bahwa kepercayaan Anda pada akal akan mengalami hal yang sama seperti kepercayaan Anda pada persepsi inderawi sebelumnya ?. Anda lalu mempercayai saya. Lalu, datanglah akal, dan saya terbukti salah. Kalau tidak ada akal, Anda akan selalu menganggap saya benar. Akal mendefinisikan bahwa bahagia itu berbentuk benda (materi) yang bisa dicari di tempat tertentu dan pada waktu khusus. Setelah semuanya diperoleh dan berlebih, terbukti kebahagiaan yang diburunya semakin menjauh. Akal lemah dalam menjawab pertanyaan kembarannya, untuk apa semua itu di cari?.
Ketiga, barangkali dibalik pemahaman akal, ada lagi hakim lain yang bila menampakkan dirinya, dapat menunjukkan kesalahan akal dalam menetapkan keputusan, seperti ketika akal muncul, akal memperlihatkan kekeliruan indera. Kenyataan bahwa pemahaman - supra-intelektual, supra-rasional - (indera keenam, red) itu belum muncul, tidaklah dapat dijadikan bukti bahwa hal itu tidak ada.
Akhirnya, Selama berbulan-bulan, profesor ini merenungkan masalah ini. Ia hampir-hampir putus asa. Pemecahan masalah ternyata tidak lewat berpikir dan merenung. Ia bercerita, Penyelesaian masalahku tidaklah datang karena pembuktian yang sistematis dan argumentasi yang dikemukakan, tetapi karena belum ada cahaya yang dimasukkan Allah Swt ke dalam dadaku.
Cahaya itu merupakan kunci menuju bagian pengetahuan yang lebih besar. Cahaya itu sendiri bukanlah ungkapan kebenaran. Kebenaran itu harus dicari, tetapi kini ia telah menemukan keterbatasan akal. Dia telah menguras kekuatan intelektualnya, namun berakhir dalam keputusasaan, ketika sentuhan ghaib Tuhan menyelematkannya dari kesesatan. Dorongan mendadak keimanan ini nampak olehnya berasal dari pencerahan Ilahi sebagai suatu cahaya pembawa harapan. Baginya, hal itu berarti bahwa pengetahuan manusia tentang kebenaran bergantung sekali pada sesuatu yang berada di luar logika dan aturan-aturan penalaran. Sebagai sesuatu yang lebih tinggi daripada nalar sebagai alat penghubung dengan kenyataan metafisik, mesti ada pada manusia, dan meskipun aktifitasnya bergantung pada bunga api Ilahi toh ia sendiri memampukan pencari yang gigih mencapai pengetahuan tentang kenyataan dan tentang Tuhan.
Profesor tersebut adalah sang Hujjatul Islam, Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali. Yang meresahkannya adalah masalah epistemologi (fahmul ‘ilmi), yang mengobatinya adalah sentuhan hidayah (Nur) Ilahi. Al-Ghazali boleh disebut sebagai salah seorang pemikir Islam yang merintis kajian epistemologi dalam perspektif Islam. (dalam Hilyatul Auliya, juz 11).
Jumat, 27 Agustus 2010
valid dinamis
kilas yang sedang jalan di lapangan
masalah solusi
lingkup kimiawi spirit
jaminan jasmaniruhani
jatahhku mubarok
ramadhan berkahku
kawasan zaff
input rezekiku
masalah solusi
lingkup kimiawi spirit
jaminan jasmaniruhani
jatahhku mubarok
ramadhan berkahku
kawasan zaff
input rezekiku
imparsial hikmah
banyak temuan tentang berbagai wacana yang harus kita kelola
yang juga tak akan lupa tentang koreksifitas harian ;
umpan silang
install agunan
input output sekitar
langkah batasan
lingkaran syariah
tata krama
pedoman kiasan
quran hakiki
yang juga tak akan lupa tentang koreksifitas harian ;
umpan silang
install agunan
input output sekitar
langkah batasan
lingkaran syariah
tata krama
pedoman kiasan
quran hakiki
Kamis, 26 Agustus 2010
verbazz
Mencapai Keberkahan Hidup
Kehidupan yang tidak berkah adalah kehidupan yang dilaknat oleh-Nya. Dijauhkan dari kebaikan
Oleh: Sholih Hasyim*
TAHUN 2006, warga Indonesia dikagetkan dengan perceraian Tommy Soeharto (Hutomo Mandala Putra) dan RA Ardhia Pramesti Regita Cahyani (Tata).
Tata, didampingi pengacaranya, Juniver Girsang menggugat cerai Tommy di Pengadilan Agama Jakarta Selatan (PA Jaksel). Mengherankan, karena Tommy selain gagah, dia adalah anak muda yang kaya raya. Sementara itu, Tata, juga seorang wanita berkelas yang cantik, seolah tanpa celah.
Usai kasus Tommy, masyarakat juga dikejutkan dengan peceraian kakaknya, Bambang Trihatmodjo dengan Halimah Agustina. Bambang lebih memilih artis Mayang Sari. Padahal dibanding umumnya wanita, Halimah adalah wanita yang sangat cantik.
Sebelum kasus-kasus mengejutkan seperti itu, pengusaha dan artis Setiawan Djodi juga bercerai dengan bintang cantik bernama Sandy Harun. Kasus-kasus ini akhirnya selalu menyisahkan banyak pertanyaan di benak kita.
Mengapa kekayaan yang berlimpah tidak selalu mendatangkan kebahagiaan?. Mengapa rumah yang megah tidak bisa menghadirkan baiti jannati (rumahku adalah surgaku)?. Mengapa kedudukan yang tinggi tidak menjadi jaminan sebagai sumber kemuliaan dan kehormatan?. Mengapa pasangan hidup yang cantik atau tampan tidak menambah kebaikan dan penyebab terwujudnya keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah? Mengapa ilmu yang tinggi (sundhul langit, Jawa) tidak dapat mengangkat derajat pemiliknya, tetapi justru menghinakannya?. Mengapa anak-anak tidak bisa menjadi hiasan kehidupan (zinatul hayah) dan penyedap pandangan (qurrata a’yun) ?.
Mereka telah bekerja keras tanpa kenal lelah, memeras keringat siang dan malam, untuk meraih semua itu, tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan harapan. Sebaliknya, kebahagiaan dan ketentraman yang selalu dicarinya, semakin jauh. Yang diperoleh justru kerumitan hidup dan malapetaka, kegersangan jiwa, kekalutan batin, dan kesempitan hati. Berawal dari kesempitan hati, berefek pada kesempitan kehidupan secara makro. Penyebab utamanya adalah semua yang dimilikinya tidak berkah.
Fenomena inilah yang menjadi kekhawatiran kita. Jangan-jangan, uang, rumah, istri/suami, harta, kedudukan, menjauhkan kita dari ketaatan kepada Allah Swt, sehingga tidak berkah. Jauh dari kebaikan-kebaikan. Justru, semuanya menjadi batu sandungan, duri, penghalang, dalam mendekatkan diri kepada-Nya.
Rasulullah Saw selalu memohon kepada Allah Swt untuk para sahabatnya, agar ketika mereka menikah semoga memperoleh berkah (barakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khair). Kepada sahabatnya yang kaya, semoga kekayaannya berkah. Kepada sahabat yang memiliki kelebihan ilmu, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat (berkah). Nabi Saw selalu meminta perlindungan kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, nafsu yang tidak pernah kenyang, doa yang tidak terkabul.
Demikianlah, berkah itu maknanya adalah ziyadatul khair (tambahan kebaikan), sesuatu yang multiguna, bertambah kualitas dan kuantitasnya, bertambah kegunaannya, bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Oleh karena itu, kita tidak boleh hanya senang memiliki sesuatu. Padahal hakikatnya bukan hak milik, tetapi hak pakai. Tetapi, yang lebih penting adalah apakah yang kita miliki itu mengundang keberkahan. Kita tidak perlu bangga dengan apa saja yang kita miliki, jika ternyata tidak mendatangkan berkah. Jadi, bukan takut tidak memiliki sesuatu, tetapi yang lebih kita takuti adalah sesuatu yang sudah menjadi hak milik kita tidak berkah.
Betapa banyak kita temukan dalam realitas kehidupan, bahkan kita merasakan sendiri, orang menjadi sengsara dengan segala thethek bengek, perabot yang dimilikinya. Kita patut mencurigai, jangan-jangan sesuatu yang sah menjadi milik kita secara formal, dalam mengusahakannya terkontaminasi oleh prosedur yang tidak berkah. Karena, kita merasa ada yang kurang, ditengah keberlimpahan.
Jika kita membuka pandangan kita secara jernih, mencermati realitas sosial akhir-akhir ini, kita menyaksikan rumah tangga yang penuh percekcokan laksana bioskop.
Di sisi lain kita temukan rumah tangga yang sepi, tidak saling menyapa, bagaikan kuburan. Sekalipun dipenuhi dengan atribut kemewahan dan kemegahan. Jangan-jangan, kualitas keilmuan, iman, etika dalam keluarga terkecil dalam masyarakat itu jauh bahkan berseberangan dari nilai-nilai syariat Islam.
Misalnya, uang yang banyak malah membuat kerumitan hidup. Ilmu yang luas malah menghinakan pemiliknya. Kedudukan yang tinggi malah menjerumuskan ke dalam mafia kejahatan dan lain-lain. Ini pasti dalam mencari dan mengamalkannya bercampur dengan mekanisme yang tidak disenangi Allah Swt. Apalah artinya apa yang kita miliki menyengsarakan kita sendiri?
Alkisah, ada salah seorang ikhwan perintis sebuah pesantren di salah satu kota terbesar di Indonesia, ia menceritakan rahasia sukse lembaganya menyebarkan sayap dakwah ke seluruh pelosok tanah air.
“Sesungguhnya kami bisa eksis dan melebarkan sayapnya dakwah di 150 perwakilan di seluruh pelosok tanah air, bukan karena ilmu, bukan pula karena ketrampilan menejemen, dan kepintaran personilnya, melainkan karena rahmat dan barakah dari Allah Swt. Insya Allah,” bagitu akunya.
Jika direnungkan, statemen saudara kita itu, besar kemungkinan benar. Tanpa rahmat dan taufiq dari Allah, sesungguhnya keberhasilan dan kesuksesan kita bukan apa-apa. Setiap orang bisa sukses. Hanya saja semua orang yang sukses belum tentu mendapat keberkahan dari Allah SWT. Alangkah ruginya kekayaan dan kesuksesan kita tanpa dibarengi keberkahan.
Maka, untuk melipatgandakan karunia yang telah diberikan oleh-Nya, kita harus mewaspadai kehidupan individu, keluarga yang tidak berkah. Yang tidak mendatangkan kebahagiaan hidup di sini dan hari esok. Mulailah berhati-hati dengan uang, prestasi, ilmu yang kita peroleh. Usahakan supaya yang menjadi milik kita menjadi multiguna (berkah). Jangan seperti orang kafir, tidak selektif dalam berusaha dan tidak hati-hati dalam memasukkan sesuatu di dalam mulutnya.
“Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang haus dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.” (QS. An-Nur (24) : 39).
Seperti halnya gelas. Gelas hanya bisa nikmat digunakan untuk minum jika terlebih dahulu gelas itu kita bersihkan. Tidak dipenuhi dengan kotoran-kotoran yang menempel didalamnya. Jangan sekali-kali mencoba untuk tidak jujur, karena kebohongan itu pangkal segala pelanggaran di dunia ini.
Untuk apa? Jujur atau tidak jujur tetap Allah Swt yang Maha Memberi. Rezeki penjahat juga datang dari Allah Swt. Rezeki orang yang jujur juga datang dari Allah Swt. Bedanya, rezeki yang diberikan kepada penjahat menjadi haram, tidak berkah. Sedangkan yang diberikan kepada orang yang sungguh-sungguh jujur adalah rezeki yang halal, berkah.
Banyak pencuri, koruptor, penjahat, perampok yang akhirnya berujung gagal. Sekalipun mereka menggunakan segala cara untuk mencari rezeki, tetapi jika Allah Swt tetap tidak merestui dan tidak memberkahi hasil yang ia peroleh.
Kalau kita mengharapkan rezeki yang berkah, harus berjuang sekuat tenaga agar jangan sampai terlintas dalam hati nurani kita secuil apapun untuk berbuat tidak jujur dan licik, sebab akan menghilangkan keberkahannya. Setelah kita berbuat jujur, hati-hati pula jangan sampai ada hak-hak orang lain yang terampas atau belum ditunaikan, apalagi hak ummat Islam secara keseluruhan.
Kehidupan yang tidak berkah adalah kehidupan yang dilaknat oleh-Nya. Dijauhkan dari kebaikan. Sehingga apa yang menjadi milik kita tidak menjadi pendukung untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Kepemilikan kita tidak bisa menjadi sahabat, tetapi menjadi musuh bagi. Makin banyak harta, tinggi ilmu, mapan kedudukan, secara pelan dan pasti membuat lobang kehancuran kita sendiri (istidraj).
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-KU, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (serba sulit), dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” [QS. Thaha (20): 124]. [Kudus, Februari 2010/www.hidayatullah.com]
Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com tinggal di Kudus, Jawa Tengah
Oleh: Sholih Hasyim*
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-Araf (7) : 96).
TAHUN 2006, warga Indonesia dikagetkan dengan perceraian Tommy Soeharto (Hutomo Mandala Putra) dan RA Ardhia Pramesti Regita Cahyani (Tata).
Tata, didampingi pengacaranya, Juniver Girsang menggugat cerai Tommy di Pengadilan Agama Jakarta Selatan (PA Jaksel). Mengherankan, karena Tommy selain gagah, dia adalah anak muda yang kaya raya. Sementara itu, Tata, juga seorang wanita berkelas yang cantik, seolah tanpa celah.
Usai kasus Tommy, masyarakat juga dikejutkan dengan peceraian kakaknya, Bambang Trihatmodjo dengan Halimah Agustina. Bambang lebih memilih artis Mayang Sari. Padahal dibanding umumnya wanita, Halimah adalah wanita yang sangat cantik.
Sebelum kasus-kasus mengejutkan seperti itu, pengusaha dan artis Setiawan Djodi juga bercerai dengan bintang cantik bernama Sandy Harun. Kasus-kasus ini akhirnya selalu menyisahkan banyak pertanyaan di benak kita.
Mengapa kekayaan yang berlimpah tidak selalu mendatangkan kebahagiaan?. Mengapa rumah yang megah tidak bisa menghadirkan baiti jannati (rumahku adalah surgaku)?. Mengapa kedudukan yang tinggi tidak menjadi jaminan sebagai sumber kemuliaan dan kehormatan?. Mengapa pasangan hidup yang cantik atau tampan tidak menambah kebaikan dan penyebab terwujudnya keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah? Mengapa ilmu yang tinggi (sundhul langit, Jawa) tidak dapat mengangkat derajat pemiliknya, tetapi justru menghinakannya?. Mengapa anak-anak tidak bisa menjadi hiasan kehidupan (zinatul hayah) dan penyedap pandangan (qurrata a’yun) ?.
Mereka telah bekerja keras tanpa kenal lelah, memeras keringat siang dan malam, untuk meraih semua itu, tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan harapan. Sebaliknya, kebahagiaan dan ketentraman yang selalu dicarinya, semakin jauh. Yang diperoleh justru kerumitan hidup dan malapetaka, kegersangan jiwa, kekalutan batin, dan kesempitan hati. Berawal dari kesempitan hati, berefek pada kesempitan kehidupan secara makro. Penyebab utamanya adalah semua yang dimilikinya tidak berkah.
Fenomena inilah yang menjadi kekhawatiran kita. Jangan-jangan, uang, rumah, istri/suami, harta, kedudukan, menjauhkan kita dari ketaatan kepada Allah Swt, sehingga tidak berkah. Jauh dari kebaikan-kebaikan. Justru, semuanya menjadi batu sandungan, duri, penghalang, dalam mendekatkan diri kepada-Nya.
Rasulullah Saw selalu memohon kepada Allah Swt untuk para sahabatnya, agar ketika mereka menikah semoga memperoleh berkah (barakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khair). Kepada sahabatnya yang kaya, semoga kekayaannya berkah. Kepada sahabat yang memiliki kelebihan ilmu, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat (berkah). Nabi Saw selalu meminta perlindungan kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, nafsu yang tidak pernah kenyang, doa yang tidak terkabul.
Demikianlah, berkah itu maknanya adalah ziyadatul khair (tambahan kebaikan), sesuatu yang multiguna, bertambah kualitas dan kuantitasnya, bertambah kegunaannya, bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Oleh karena itu, kita tidak boleh hanya senang memiliki sesuatu. Padahal hakikatnya bukan hak milik, tetapi hak pakai. Tetapi, yang lebih penting adalah apakah yang kita miliki itu mengundang keberkahan. Kita tidak perlu bangga dengan apa saja yang kita miliki, jika ternyata tidak mendatangkan berkah. Jadi, bukan takut tidak memiliki sesuatu, tetapi yang lebih kita takuti adalah sesuatu yang sudah menjadi hak milik kita tidak berkah.
Betapa banyak kita temukan dalam realitas kehidupan, bahkan kita merasakan sendiri, orang menjadi sengsara dengan segala thethek bengek, perabot yang dimilikinya. Kita patut mencurigai, jangan-jangan sesuatu yang sah menjadi milik kita secara formal, dalam mengusahakannya terkontaminasi oleh prosedur yang tidak berkah. Karena, kita merasa ada yang kurang, ditengah keberlimpahan.
Jika kita membuka pandangan kita secara jernih, mencermati realitas sosial akhir-akhir ini, kita menyaksikan rumah tangga yang penuh percekcokan laksana bioskop.
Di sisi lain kita temukan rumah tangga yang sepi, tidak saling menyapa, bagaikan kuburan. Sekalipun dipenuhi dengan atribut kemewahan dan kemegahan. Jangan-jangan, kualitas keilmuan, iman, etika dalam keluarga terkecil dalam masyarakat itu jauh bahkan berseberangan dari nilai-nilai syariat Islam.
Misalnya, uang yang banyak malah membuat kerumitan hidup. Ilmu yang luas malah menghinakan pemiliknya. Kedudukan yang tinggi malah menjerumuskan ke dalam mafia kejahatan dan lain-lain. Ini pasti dalam mencari dan mengamalkannya bercampur dengan mekanisme yang tidak disenangi Allah Swt. Apalah artinya apa yang kita miliki menyengsarakan kita sendiri?
Alkisah, ada salah seorang ikhwan perintis sebuah pesantren di salah satu kota terbesar di Indonesia, ia menceritakan rahasia sukse lembaganya menyebarkan sayap dakwah ke seluruh pelosok tanah air.
“Sesungguhnya kami bisa eksis dan melebarkan sayapnya dakwah di 150 perwakilan di seluruh pelosok tanah air, bukan karena ilmu, bukan pula karena ketrampilan menejemen, dan kepintaran personilnya, melainkan karena rahmat dan barakah dari Allah Swt. Insya Allah,” bagitu akunya.
Jika direnungkan, statemen saudara kita itu, besar kemungkinan benar. Tanpa rahmat dan taufiq dari Allah, sesungguhnya keberhasilan dan kesuksesan kita bukan apa-apa. Setiap orang bisa sukses. Hanya saja semua orang yang sukses belum tentu mendapat keberkahan dari Allah SWT. Alangkah ruginya kekayaan dan kesuksesan kita tanpa dibarengi keberkahan.
Maka, untuk melipatgandakan karunia yang telah diberikan oleh-Nya, kita harus mewaspadai kehidupan individu, keluarga yang tidak berkah. Yang tidak mendatangkan kebahagiaan hidup di sini dan hari esok. Mulailah berhati-hati dengan uang, prestasi, ilmu yang kita peroleh. Usahakan supaya yang menjadi milik kita menjadi multiguna (berkah). Jangan seperti orang kafir, tidak selektif dalam berusaha dan tidak hati-hati dalam memasukkan sesuatu di dalam mulutnya.
“Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang haus dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.” (QS. An-Nur (24) : 39).
Seperti halnya gelas. Gelas hanya bisa nikmat digunakan untuk minum jika terlebih dahulu gelas itu kita bersihkan. Tidak dipenuhi dengan kotoran-kotoran yang menempel didalamnya. Jangan sekali-kali mencoba untuk tidak jujur, karena kebohongan itu pangkal segala pelanggaran di dunia ini.
Untuk apa? Jujur atau tidak jujur tetap Allah Swt yang Maha Memberi. Rezeki penjahat juga datang dari Allah Swt. Rezeki orang yang jujur juga datang dari Allah Swt. Bedanya, rezeki yang diberikan kepada penjahat menjadi haram, tidak berkah. Sedangkan yang diberikan kepada orang yang sungguh-sungguh jujur adalah rezeki yang halal, berkah.
Banyak pencuri, koruptor, penjahat, perampok yang akhirnya berujung gagal. Sekalipun mereka menggunakan segala cara untuk mencari rezeki, tetapi jika Allah Swt tetap tidak merestui dan tidak memberkahi hasil yang ia peroleh.
Kalau kita mengharapkan rezeki yang berkah, harus berjuang sekuat tenaga agar jangan sampai terlintas dalam hati nurani kita secuil apapun untuk berbuat tidak jujur dan licik, sebab akan menghilangkan keberkahannya. Setelah kita berbuat jujur, hati-hati pula jangan sampai ada hak-hak orang lain yang terampas atau belum ditunaikan, apalagi hak ummat Islam secara keseluruhan.
Kehidupan yang tidak berkah adalah kehidupan yang dilaknat oleh-Nya. Dijauhkan dari kebaikan. Sehingga apa yang menjadi milik kita tidak menjadi pendukung untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Kepemilikan kita tidak bisa menjadi sahabat, tetapi menjadi musuh bagi. Makin banyak harta, tinggi ilmu, mapan kedudukan, secara pelan dan pasti membuat lobang kehancuran kita sendiri (istidraj).
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-KU, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (serba sulit), dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” [QS. Thaha (20): 124]. [Kudus, Februari 2010/www.hidayatullah.com]
Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com tinggal di Kudus, Jawa Tengah
sholatku
Maqashid As Shalah, Dikaji pada Ramadhan Masa Malik Al Asyraf
Wednesday, 25 August 2010 12:57 Kajian Ramadhan
Kajian yang dibawakan Sibth Ibnu Al Jauzi mengajak para hadirin agar mengajarkan Maqashid As Shalah kepada anak-anak mereka
Hidayatullah.com--Biasanya Sibth Ibnu Al Jauzi mengunjungi Malik Al Asyraf, penguasa Damaskus untuk memberi nasihat. Cucu Ibnu Al Jauzi ini seorang penceramah yang handal, yang biasa memberi ceramah di lingkungan pemerintah pada bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan.
Tak hanya kalangan pejabat saja yang mendengarkan, rakyat juga berduyun-duyun ingin mendapatkan nasihatnya. Tak jarang Malik Al Asyraf menangis tersedu-sedu ketika mendengarkan nasihat dari Sibth Ibnu Al Jauzi ini, rakyat pun ikut menangis.
Dalam kajian rutin tersebut Sibth Ibnu Al Jauzi juga membacakan Maqasid As Shalah kepada hadirin. Beliau sendiri menasihatkan agar mereka menghafal dan mengajarkan kepada anak-anak.
Maqashid As Shalat merupakan salah satu buku yang ditulis oleh Syaikh Al Islam Izuddin bin Abdissalam, ulama besar yang hidup di Syam dan Mesir. Buku ini dikenal di kalangan penguasa Damaskus setelah Malik As Al Asyraf melakukan kekhilafan dengan melarang beliau untuk berfatwa karena terpengaruh golongan ahlul bid’ah. Malik Al Asyraf akhirnya ingin mengkaji beberapa karya Syaikh Izuddin, salah satunya yakni Maqasid As Shalah. Ia menyimaknya 3 kali dalam sehari.
Syaikh Al Islam Taqiyuddin As Subki sendiri menilai karya Syaikh Izuddin sebagi karya yang amat berbobot. ”Kalau Maqasid As Shalah dibacakan sekali kepada para ulama yang zuhud, niscaya mereka akan mengulanginya.”
Tajuddin As Subki menjelaskan bahwa saat kitab ini dibaca Sibth Ibnu Al Jauzi, kitab itu ditulis ulang dalam jumlah yang amat banyak. Semua ini disampaikan Tajuddin As Subki dalam Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra. [tho/hidayatullah.com]
Hidayatullah.com--Biasanya Sibth Ibnu Al Jauzi mengunjungi Malik Al Asyraf, penguasa Damaskus untuk memberi nasihat. Cucu Ibnu Al Jauzi ini seorang penceramah yang handal, yang biasa memberi ceramah di lingkungan pemerintah pada bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan.Tak hanya kalangan pejabat saja yang mendengarkan, rakyat juga berduyun-duyun ingin mendapatkan nasihatnya. Tak jarang Malik Al Asyraf menangis tersedu-sedu ketika mendengarkan nasihat dari Sibth Ibnu Al Jauzi ini, rakyat pun ikut menangis.
Dalam kajian rutin tersebut Sibth Ibnu Al Jauzi juga membacakan Maqasid As Shalah kepada hadirin. Beliau sendiri menasihatkan agar mereka menghafal dan mengajarkan kepada anak-anak.
Maqashid As Shalat merupakan salah satu buku yang ditulis oleh Syaikh Al Islam Izuddin bin Abdissalam, ulama besar yang hidup di Syam dan Mesir. Buku ini dikenal di kalangan penguasa Damaskus setelah Malik As Al Asyraf melakukan kekhilafan dengan melarang beliau untuk berfatwa karena terpengaruh golongan ahlul bid’ah. Malik Al Asyraf akhirnya ingin mengkaji beberapa karya Syaikh Izuddin, salah satunya yakni Maqasid As Shalah. Ia menyimaknya 3 kali dalam sehari.
Syaikh Al Islam Taqiyuddin As Subki sendiri menilai karya Syaikh Izuddin sebagi karya yang amat berbobot. ”Kalau Maqasid As Shalah dibacakan sekali kepada para ulama yang zuhud, niscaya mereka akan mengulanginya.”
Tajuddin As Subki menjelaskan bahwa saat kitab ini dibaca Sibth Ibnu Al Jauzi, kitab itu ditulis ulang dalam jumlah yang amat banyak. Semua ini disampaikan Tajuddin As Subki dalam Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra. [tho/hidayatullah.com]
taaruf
Ramadhan Bulan Qur'an Bulan Ilmu
Satu pesan inti dari Ramadhan yang belum mendapat antusiasme sebagian umat Islam adalah ilmu dan tradisi ilmu
Hidayatullah.com--Peradaban yang akan bangkit dan tumbuh berkembang adalah peradaban yang memiliki perhatian besar terhadap ilmu. Seperti telah disepakati oleh ahli sejarah Timur maupun Barat, bangun dan tegaknya peradaban Islam disebabkan oleh antusiasme Rasulullah saw bersama sahabat terhadap ilmu.
Ramadhan bagi Nabi Muhammad adalah gerbang kebangkitan. Sebab padanya turun ayat pertama al-Qur’an iqra’.
“Iqra’ itu simbolik Qur’an terhadap urgensitas ilmu. Kita bisa lihat bagaimana Ramadhan menjadi bulan ilmu. Dalam Ramadhan Rasulullah saw biasa mengulang-ulang bacaan al-Qur’an sedemikian rupa,” jelas Dr. Nirwan Syafrin, MA kepada hidayatullah.com siang ini (24/8).
Nirwan yang juga dosen Filsafat Ilmu pada Program Paskasarjana UIKA Bogor itu pun mengatakan bahwa tradisi nabi itu diteladani oleh para sahabat dan ulama-ulama terdahulu.
“Tradisi Rasulullah saw itu ditiru dan dilestarikan oleh para sahabat dan ulama-ulama kita terdahulu. Imam Syafi’i misalkan, beliau sanggup membaca al-Qur’an sampai 60 kali khatam,” jelasnya.
Menariknya, Nirwan menjelaskan bahwa tradisi tersebut berkembang tidak semata-mata diniatkan untuk mendapat pahala. Lebih dari itu adalah mempertajam keilmuan mereka.
“Rasulullah saw, sahabat dan ulama-ulama terdahulu membaca al-Qur’an itu tidak sekedar untuk mendapat pahala. Mereka melakukan itu dengan penuh antusias karena juga ingin mempertajam keilmuan mereka dengan menggalinya langsung dari al-Qur’an,” jelasnya.
Qur’an Sumber Ilmu
Al-Qur’an pada hakikatnya adalah sumber ilmu. Tradisi tadarrus yang dikembangkan Nabi dan sahabat ketika itu mampu mendorong lahirnya berbagai macam disiplin ilmu dalam Islam.
“Dari pembacaan Qur’an itu lahirlah ilmu fikih, tafsir, hadis, nahwu, dan lain sebagainya. Lahirnya berbagai macam disiplin ilmu itu merupakan refleksi al-Qur’an sebagai sumber ilmu,” terangnya.
Lebih lanjut Nirwan yang juga pengasuh Pondok Pesantren Husnayain Sukabumi Jawa Barat itu menegaskan bahwa ilmu sejatinya Qur’an dan Sunnah itu sendiri.
“Ilmu itu ya Qur’an dan Sunnah itu sendiri. Dari Qur’an pula Imam Ghazali mengklasifikasikan ilmu dalam dua kategori fardhu. Fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Jadi kalau ingin bangkit dari keterpurukan umat Islam harus kembali membangun tradisi ilmu yang bersumber dan relevan dengan kandungan al-Qur’an,” paparnya.
Jadi ilmu tidak sama dengan apa yang dipahami sarjana kontemporer yang melihatnya dari sisi saintifik saja.
“Nah, sekarang ilmu telah tereduksi. Pandangan hidup Barat telah menggeser pandangan umat Islam terhadap ilmu. Ilmu tidak lebih dari sekedar yang sifatnya saintifik dan tidak dikejar kecuali untuk kepentingan sosio-ekonomi semata. Padahal ilmu dalam Islam tidak dicari kecuali untuk diamalkan dan didedikasikan untuk mendapat keridaan-Nya,” tegasnya.
Oleh karena itu, Nirwan mengajak umat Islam untuk menjadikan momentum Ramadhan kali ini sebagai gerbang menuju bankitnya tradisi ilmu.
“Ramadhan ini adalah bulan Qur’an juga berarti bulan ilmu. Maka dari itu hendaknya mulai sekarang umat Islam berusaha untuk menuntut ilmu dengan sebaik-baiknya. Kita juga harus bisa menghargai ilmu dan mencintai serta mendukung para penuntut ilmu. Ingatlah pesan Syaikh Al-Zumaji (pengarang kitab ta’limul muta’alim) bahwa Islam akan kekal dengan ilmu,” tambahnya. [imam/hidayatullah.com]
Hidayatullah.com--Peradaban yang akan bangkit dan tumbuh berkembang adalah peradaban yang memiliki perhatian besar terhadap ilmu. Seperti telah disepakati oleh ahli sejarah Timur maupun Barat, bangun dan tegaknya peradaban Islam disebabkan oleh antusiasme Rasulullah saw bersama sahabat terhadap ilmu.Ramadhan bagi Nabi Muhammad adalah gerbang kebangkitan. Sebab padanya turun ayat pertama al-Qur’an iqra’.
“Iqra’ itu simbolik Qur’an terhadap urgensitas ilmu. Kita bisa lihat bagaimana Ramadhan menjadi bulan ilmu. Dalam Ramadhan Rasulullah saw biasa mengulang-ulang bacaan al-Qur’an sedemikian rupa,” jelas Dr. Nirwan Syafrin, MA kepada hidayatullah.com siang ini (24/8).
Nirwan yang juga dosen Filsafat Ilmu pada Program Paskasarjana UIKA Bogor itu pun mengatakan bahwa tradisi nabi itu diteladani oleh para sahabat dan ulama-ulama terdahulu.
“Tradisi Rasulullah saw itu ditiru dan dilestarikan oleh para sahabat dan ulama-ulama kita terdahulu. Imam Syafi’i misalkan, beliau sanggup membaca al-Qur’an sampai 60 kali khatam,” jelasnya.
Menariknya, Nirwan menjelaskan bahwa tradisi tersebut berkembang tidak semata-mata diniatkan untuk mendapat pahala. Lebih dari itu adalah mempertajam keilmuan mereka.
“Rasulullah saw, sahabat dan ulama-ulama terdahulu membaca al-Qur’an itu tidak sekedar untuk mendapat pahala. Mereka melakukan itu dengan penuh antusias karena juga ingin mempertajam keilmuan mereka dengan menggalinya langsung dari al-Qur’an,” jelasnya.
Qur’an Sumber Ilmu
Al-Qur’an pada hakikatnya adalah sumber ilmu. Tradisi tadarrus yang dikembangkan Nabi dan sahabat ketika itu mampu mendorong lahirnya berbagai macam disiplin ilmu dalam Islam.
“Dari pembacaan Qur’an itu lahirlah ilmu fikih, tafsir, hadis, nahwu, dan lain sebagainya. Lahirnya berbagai macam disiplin ilmu itu merupakan refleksi al-Qur’an sebagai sumber ilmu,” terangnya.
Lebih lanjut Nirwan yang juga pengasuh Pondok Pesantren Husnayain Sukabumi Jawa Barat itu menegaskan bahwa ilmu sejatinya Qur’an dan Sunnah itu sendiri.
“Ilmu itu ya Qur’an dan Sunnah itu sendiri. Dari Qur’an pula Imam Ghazali mengklasifikasikan ilmu dalam dua kategori fardhu. Fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Jadi kalau ingin bangkit dari keterpurukan umat Islam harus kembali membangun tradisi ilmu yang bersumber dan relevan dengan kandungan al-Qur’an,” paparnya.
Jadi ilmu tidak sama dengan apa yang dipahami sarjana kontemporer yang melihatnya dari sisi saintifik saja.
“Nah, sekarang ilmu telah tereduksi. Pandangan hidup Barat telah menggeser pandangan umat Islam terhadap ilmu. Ilmu tidak lebih dari sekedar yang sifatnya saintifik dan tidak dikejar kecuali untuk kepentingan sosio-ekonomi semata. Padahal ilmu dalam Islam tidak dicari kecuali untuk diamalkan dan didedikasikan untuk mendapat keridaan-Nya,” tegasnya.
Oleh karena itu, Nirwan mengajak umat Islam untuk menjadikan momentum Ramadhan kali ini sebagai gerbang menuju bankitnya tradisi ilmu.
“Ramadhan ini adalah bulan Qur’an juga berarti bulan ilmu. Maka dari itu hendaknya mulai sekarang umat Islam berusaha untuk menuntut ilmu dengan sebaik-baiknya. Kita juga harus bisa menghargai ilmu dan mencintai serta mendukung para penuntut ilmu. Ingatlah pesan Syaikh Al-Zumaji (pengarang kitab ta’limul muta’alim) bahwa Islam akan kekal dengan ilmu,” tambahnya. [imam/hidayatullah.com]
Langganan:
Komentar (Atom)


